12 Agustus 2009

Nahkoda Baru Indosat



PT Indosat Tbk (Indosat) secara resmi melaksanakan serah terima jabatan Presiden Direktur and CEO perusahaan telekomunikasi milik Qatar Telecom itu dari Johnny Swandi Sjam kepada Harry Sasongko. Ini merupakan hasil keputusan RUPS dan RUPSLB Indosat 2009 yang dilaksanakan pada 11 Juni 2009.

Harry Sasongko dipercaya melanjutkan estafet kepemimpinan Indosat sebagai Presiden Direktur and CEO Indosat setelah menyisihkan beberapa pesaingnya. Kabarnya, para pesaing itu rata-rata ekspatriat alias orang asing.

Pria kelahiran Bandung, 17 Desember itu sebelumnya menjabat sebagai CEO General Electric (GE) Financial. Dia memang lebih dikenal sebagai orang finance ketimbang orang telko.

Setelah meraih gelar sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1983, ayah dua anak ini sempat menjadi pegawai honorer di Dinas Pekerjaa Umum. Setelah itu, ia terbang ke Amerika Serikat (AS) untuk belajar lagi, tepatnya di Ohio State University. Setelah meraih gelar Master of Science pada 1986, Harry Sasongko kembali ke Indonesia dan bekerja di Panin Bank pada 1987.

Harry Sasongko terus memperdalam ilmu finansialnya dengan mengambil Chartered Financial Consultant dari Singapore College of Insurance American College, AS. Kariernya terus melesat di perbankan. Pada 1988, Citibank merekrutnya untuk dipercaya sebagai Vice President & Sales Director . Pada 1993, Harry Sasongko menduduki jabatan sebagai Director Citicorp Finance Indonesia.

Pada 1995, Harry Sasongko pindah ke Bank Tiara dan menjabat sebagai Managing Director of Consumer Banking serta merangkap jabatan sebagai Komisaris PT Asuransi Jiwa Tiara dan Komisaris PT Tiara Asset Management pada 1997.

Pada saat krisis ekonomi menerpa Indonesia dan sebagian negara Asia pada 1998, Harry Sasongko bergabung dengan Lippo Group. Kali ini, ia tidak di perbankan atau bidang finance, tetapi di PT Matahari Putra Prima sebagai Marketing Director. Namun, di posisi ini ia hanya 'bertahan' tiga minggu. Pada saat itu, Bank Lippo termasuk bank yang direkapitulasi oleh pemerintah sehingga Harry Sasongko dipercaya untuk mengurus Bank Lippo. Ia di Bank Lippo sampai awal 2005 sebelum akhirnya dibajak untuk memimpin GE Finance Indonesia.

Pada 11 Juni 2009, Harry Sasongko dipercaya memimpin Indosat. Ada kesan, Indosat ingin meniru 'sukses' PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) saat menyerahkan tampuk pimpinan pada orang finance, Arwin Rasyid (mantan dirut Bank Niaga dan dirut Bank Danamon), beberapa tahun lalu.

Dalam sambutan pertamanya setelah acara serah terima jabatan, Harry Sasongko menyatakan siap mengemban tugas memimpin Indosat guna mencapai dan mewujudkan kemajuan yang berkesinambungan bagi perusahaan dengan selalu mengedepankan kualitas layanan serta lebih fokus pada pelanggan (customers focused).

“Saya berharap dapat menyumbangkan ilmu, pengalaman dan jaringan yang saya miliki, di bidang consumer banking, manajemen dan keuangan, dalam skala nasional maupun internasional,” kata Harry Sasongko.

Akankah Harry Sasongko bisa membawa Indosat lebih berkibar di masa datang?

17 Juli 2009

Tony Chen Mundur dari Microsoft Indonesia



Tony Chen mengundurkan diri sebagai presiden direktur PT Microsoft Indonesia yang telah diembannya selama tujuh tahun. Ia ingin memulai pengembangan baru dalam kariernya, dan mengejar tantangan dan tanggung jawab yang berbeda.

“Ini adalah keputusan yang sangat berat bagi saya. Microsoft adalah perusahaan yang menganut nilai-nilai besar dengan pegawai yang juga mempunyai semangat besar. Saya pun sangat mencintai kehidupan saya selama bekerja untuk Microsoft 7 tahun belakangan ini,” kata Tony Chen dalam keterangan resmi PT Microsoft Indonesia, Kamis (16/7).

Pada 2002, Tony meninggalkan posisi sebagai direktur Country Sales PT Oracle Indonesia dan bergabung dengan PT Microsoft Indonesia sebagai direktur Enterprise Customer dan Partner Group. Pada Mei 2003, Tony dipercaya menjadi presiden direktur PT Microsoft Indonesia. Sejak itu, pria kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara itu menumpahkan segala kemampuannya di anak perusahaan peranti lunak terbesar di dunia itu.

Selama kepemimpinannya, Tony Chen berhasil membawa Microsoft Indonesia meraih sejumlah penghargaan, termasuk sebagai Best Subsidiary in Emerging Markets Award dari Microsoft Corp dua kali berturut-turut pada 2007 dan 2008. Ia juga yang meng-arrange pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Bill Gates di kantor pusat Microsoft di Redmont, AS, pada 2005.

Waktu itu, pada awal 2005, Tony Chen mendapat informasi Presiden SBY ingin melakukan kunjungan kenegaraan ke AS. "Kalau tidak salah dua minggu sebelum keberangkatan Pak Presiden. Saya tawarkan kepada salah satu pejabat Indonesia untuk berkunjung ke kantor pusat Microsoft, sekaligus bertemua Bill Gates. Rupanya, ide saya itu diterima. Saya jadi kelabakan sendiri karena tidak gampang pula mengatur waktu Bill Gates, yang biasanya sudah terjadwal setahun sebelumnya," kenang Tony Chen.

Meski demikian, Tony Chen tidak patah arang. Ia menghubungi kantor pusat, dan berusaha meyakinkan para pejabat Microsoft tentang kedatangan Presiden SBY. "Rupanya Bill Gates juga berkenan dan jadilah jadwal Bill Gates digeser-geser," kata Tony Chen.

Ia juga berhasil meyakinkan Bill Gates dan kantor pusat Microsoft untuk menggelar Government Leader Forum (GLF) pada Mei 2008. Pada ajang GLF itu, Bill Gates datang ke Jakarta untuk memberikan kuliah umum. "Ini juga perjuangan yang tidak mudah. Beruntung, saya berkesempatan menemui Bill Gates saat kami menerima penghargaan sebagai Best Subsidiary in Emerging Markets Award pada 2007. "Waktu itu, saya mulai memancing pembicaraan serius dengan Bill Gates. Waktu itu, saya buka dengan isu Flu Burung, yang memang menarik perhatian Bill Gates. Setelah itu, saya yakinkan dia agar GLF 2008 digelar di Jakarta," kenang Bill Gates.

Semasa memimpin PT Microsoft Indonesia, Tony Chen juga sangat aktif dalam mengenalkan dan mengembangkan teknologi informasi (TI) di Tanah Air. Pelatihan TI untuk 185 ribu guru dan 7,6 juta siswa, membangun 120 Community Technology Centers (CTC) di 20 provinsi sebagai pusat pelatihan TI untuk dua juta petani. Microsoft Indonesia telah membangun lima Microsoft Innovation Center (MIC) di lima perguruan tinggi terkenal di Indonesia. Microsoft Indonesia juga aktif memberikan pelatihan dan pengembangan 100 perusahaan peranti lunak baru yang menyediakan sedikitnya 3.500 lapangan kerja baru.

Kemana Tony Chen setelah berhenti dari Microsoft? Apakah Tony Chen akan kembali ke Oracle Indonesia yang baru ditinggal oleh Country Manager-nya, Adi J Rusli yang kini menjadi country manager EMC? Atau Tony Chen telah ditelepon oleh Presiden Indonesia terpilih untuk 2004-2009, Susilo Bambang Yudhoyono, untuk memimpin Departemen Komunikasi dan Informatika? Tony Chen adalah orang yang berperan besar dalam 'mengakrabkan' Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Bill Gates, bos sekaligus pendiri Microsoft.

"Tidak! Saat saya memutuskan mengundurkan diri dari Microsoft Indonesia, saya belum mempersiapkan persinggahan lain. Setelah lepas dari Microsoft, saya ingin libur dan berlibur," kata Tony Chen saat ramah tamah dengan beberapa wartawan di salah satu restoran di Jakarta.

Namun, Tony Chen mengakui, keputusan mengundurkan diri dari Microsoft Indonesia amat berat. Pekerjaannya di Microsoft Indonesia begitu menyita waktu dan pikirannya sehingga sulit untuk melepaskannya begitu saja.

"Setelah melakukan pertimbangan dalam waktu beberapa bulan ini, saya telah siap untuk memulai pengembangan baru dalam karir saya, dan mengambil keputusan sulit untuk meninggalkan Microsoft guna mengejar tantangan dan tanggung jawab yang berbeda,” kata Tony Chen.

Menanggapi pengunduran diri Tony Chen itu, Presiden Microsoft Asia Pacific Emilio Umeoka mengatakan, selama tujuh tahun, Tony Chen telah mendemonstrasikan kepemimpinan yang mengagumkan, dan membuat kontribusi penting dan berharga bagi Microsoft. “Bagi Microsoft, Tony sangat fokus untuk menempatkan Indonesia dalam peta global,” kata dia.

09 Juli 2009

Dari Oracle, Adi Rusli Pimpin EMC


Ada dinamika yang luar biasa di dunia teknologi informasi (TI) di Tanah Air. Bukan hanya soal teknologi dan temuan-temuannya, tapi juga orang-orang yang terlibat di dalamnya. Para pemimpinnya, khususnya.

Setelah Elisa Lumbantoruan terbang dari HP Indonesia ke Garuda Indonesia, yang disusul Irfan Setiaputera yang hengkang dari Cisco Indonesia ke PT Inti (Persero), dan Megawaty Khie yang lompat dari Dell Indonesia ke HP Indonesia, kini giliran Adi J Rusli.
Adi Rusli meninggalkan posisi sebagai country manager Oracle Indonesia yang cukup besar dari segi bisnis, 'menclok' di EMC yang bisnisnya relatif lebih kecil di Indonesia. Ia meningggalkan pekerjaannya di Oracle yang sudah 14 tahun digelutinya.

EMC adalah perusahaan yang terkenal dengan produk storage alias media penyimpanannya. Namun, perusahaan ini juga memiliki software dan solusi bisnis yang beragam. “Mindset soal perusahaan hardware inilah yang mau saya ubah EMC. Bisnis hardware itu sebetulnya hanya sebagian dari portofolio kami,” kata Adi.

Adi bertanggung jawab menjalankan aktivitas penjualan dan pengembangan bisnis EMC di Indonesia pada segmen-segmen pasar korporasi, perusahaan menengah dan usaha kecil dan menengah. Ini adalah tantangan Adi.

Adi telah berkecimpung dalam dunia TI lebih dari 20 tahun, khususnya di bidang penjualan, pemasaran, dan kewirausahaan. Pengalaman-pengalaman ini sangat berguna untuk jabatan barunya.

Sebelum bergabung dengan EMC, Adi adalah Managing Director PT Oracle Indonesia. Ia tanggung jawab mengawasi operasi bisnis, strategi dan aktivitas Oracle di Indonesia, termasuk penjualan, pengembangan bisnis jangka panjang, layanan pelanggan, dan hubungan dengan pemerintah dan komunitas dalam rangka mengembangkan dan menumbuhkan peluang bisnis lokal.

Sebelum bergabung dengan Oracle, alumnus Teknik Listrik Universitas Diponegoro, Semarang ini pernah memegang berbagai jabatan manajer di PT Federal Motor dan PT Mincom Indoservices.

Presiden EMC Asia Selatan Ron Goh juga yakin dengan kemampuan Adi memimpin EMC. Apalagi, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan Indonesia akan tumbuh 4% pada tahun ini. Itu artinya, negara ini menjadi perekonomian besar yang bertumbuh paling cepat di Asia Tenggara.

“Saya yakin tingkat keahlian dan pengetahuan Adi mengenai pasar lokal akan membantu EMC memperkuat bisnis dan berhasil meningkatkan pemasaran di Indonesia. Kami akan terus memberikan sejumlah produk infrastruktur informasi, solusi, dan jasa terbaik yang searah dengan prioritas bisnis dan fokus utama dari para pelanggan," ujar Ron Goh.

Di tingkat global, EMC cukup dikenal dalam bisnis penyimpanan. Bahkan, EMC bertengger dalam lima besar dunia. Di Indonesia, EMC memiliki lebih dari 30 pelanggan penting yang tersebar di sektor telekomunikasi, jasa keuangan dan industri manufaktur, termasuk Bank Rakyat Indonesia, Indosat dan Telkomsel. EMC membuka kantor dan customer solution center di Jakarta pada 2006 dan memelihara kemitraan yang kuat dengan para distributor dan systems integrators terkemuka.

06 Juli 2009

Steven Law Pimpin NetApp Indonesia, Vietnam dan Filipina


NetApp mengangkat Steven Law, Country Manager NetApp Indonesia, untuk juga memimpin bisnis NetApp di Vietnam dan Filipina. Dengan tugas memimpin tiga negara itu, pria yang sudah berpengalaman lima tahun mengelola kegiatan bisnis NetApp ini akan bertanggung jawab langsung kepada Managing Director NetApp Asean Suresh Nair.

"Sebagai putra Indonesia, saya bangga mendapat kesempatan untuk memimpin negara lain. Di sisi lain saya juga merasa tertantang dengan kepercayaan yang telah diberikan. Untuk itu saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Netapp Indonesia, Vietnam dan Filipina," ujar Steven Law, dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (6/7/2009).

Steven Law adalah orang pertama yang bekerja di NetApp Indonesia. Tugasnya adalah membangun bisnis NetApp di Indonesia. Di Tanah Air, Steven tidak hanya sukses meningkatkan pertumbuhan bisnis NetApp dalam hal penerimaan, tetapi juga dalam pangsa pasar. Selama memimpin NetApp Indonesia, Steven beberapa kali menerima penghargaan dari NetApp. Salah satunya adalah sebagai No 1 Asean Top Sales Award pada 2006. Sukses demi sukses itulah yang mengantarkannya untuk memimpin bisnis NetApp di Vietnam dan Filipina.

Bisnis utama NetApp adalah storage. Untuk menjadi pemimpin pasar storage (penyimpanan) di suatu negara tidaklah mudah. Persaingan antarvendor storage semakin ketat, hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Vietnam dan Filipina. Untuk pasar storage Vietnam dari tahun ke tahun diperkirakan tumbuh lebih dari 40%, sedangkan di Filipina tumbuh 30%.

"Kami percaya teknologi dan solusi yang kami punya telah membuat kami berbeda dengan vendor storage lain. Buktinya semakin banyak pelanggan yang memilih NetApp untuk meminta bantuan dalam menyelesaikan tantangan yang dihadapi mengenai storage dan data manajemen, khususnya ketika mereka menghadapai pengetatan anggaran, termasuk biaya dan infratruktur," kata Steven.

Majalah Fortune, Februari 2009, kembali menetapkan NetApp sebagai perusahaan nomor satu dari 100 Best Companies to Work For. Ini adalah tahun kedua bagi NetApp berada di peringkat 10 besar dan tiga tahun berturut-turut berada di peringkat 15 besar.

Ketika mengomentari penghargaan dari majalah Fortune (Selasa, 3/2/2009) itu, Chairman dan CEO NetApp Dan Warmenhoven mengatakan, nilai kebudayaan yang menghargai kerja tim, produktivitas, kepemimpinan dan inovasi adalah hal yang sangat membantu perusahaan dalam menciptakan terobosan yang lebih baik, memelihara bakat-bakat terbaik, dan memberikan keuntungan yang lebih besar untuk para pemangku kepentingan.

“Saya sangat bangga dengan apa yang telah kami capai, termasuk apa yang karyawan kami hargai setiap hari, tempat kerja kolaboratif yang membuahkan hasil lebih baik," ujar Dan Warmenhoven.

Dan, Steven Law mengatakan, "Tim kami bekerja seperti sebuah keluarga dan kami selalu berusaha ada setiap saat untuk satu sama lain. Saya mempunyai sebuah grup kerja yang terdiri dari orang-orang yang sangat professional, yang mencintai pekerjaan mereka dan melakukan perkerjaan mereka dengan senang hati. NetApp merupakan tempat kerja yang baik karena karyawan-karyawannya. Merekalah yang membuat perbedaan. Kami tidak hanya yakin dengan kontribusi kepada NetApp, tetapi kami juga yakin dengan memberi kembali kepada masyarakat melalui komunitas outreach program kami, di mana tim saya berkontribusi secara berkelanjutan."

01 Juli 2009

Kiprah Jawara TI Indonesia



Ini tentang kisah sukses orang Indonesia dalam dunia pekerjaan. Mereka rata-rata anak muda yang sukses meniti karier di perusahaan multinasional (multinational corporation/MNC) di Indonesia.

Ada banyak MNC yang mendirikan anak usaha di Tanah Air, tak terkecuali yang membuka kantor representatif. Mulai dari perusahaan pertambangan dan energi, perbankan, perkebunan, dan teknologi informasi (TI).

Awalnya, MNC itu memercayakan bisnisnya pada orang asing, baik yang berasal dari negara asal MNC itu maupun dari negara maju lain di Asia, seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina. Orang Indonesia rata-rata hanya sebagai pekerja biasa.

Demikian resensi atas buku The CEO Way: 8 Pendekar TI Indonesia yang dimuat di Harian BISNIS INDONESIA edisi Minggu, 28 Juni 2009.

Selengkapnya....("klik di sini")

22 Juni 2009

'Pembodohan' Nasional

"Pak Sus, Dina lulus ga?"

Yang ditanya mengangguk sehingga penanya memberondongnya dengan pertanyaan lain.

"Berapa NEM-nya?"

'Empat puluh enam koma lapan? Ucup lulus juga? Berapa NEM-nya?"

"Lulus lah. 54,9!"

"Wah, hebat dong. Berarti rata-ratanya sembilan lebih!"

"Hebat apanya? Wong 60% jawaban soalnya sudah diisi."

"Iya sih! Dina juga cerita, waktu ujian, dia boleh bawa hp. Waktu ngerjain soal tiba-tiba ada SMS. Dia gak tau SMS dari siapa. Tapi isinya adalah jawaban soal ujian. Ha...ha..ha...."

Berdua tertawa. Pendengar lain ikut tertawa.

"Itu karena sekolah punya target agar semua siswanya lulus 100%. Demi nama baik sekolah dan demi nama baik guru-gurunya."

Inilah percakapan yang tersiar di warung kopi. Entah benar atau tidak, faktanya ada beberapa sekolah yang karena salah kasih bocoran jawaban akhirnya 100% siswanya tak lulus.

Apa yang sesungguhnya diharapkan dari program ujian nasional itu kalau sesungguhnya menjadi program penghancuran generasi muda Indonesia. Demi nama sekolah. Demi makin banyaknya siswa baru yang mendaftar. Demi kocek sekolah, saku yayasan dan pengurusnya. Ujung-ujungnya duit juga.

Ada yang hanya diam mendengar obrolan warung kopi itu. Ia ingin segera pulang menanyai anaknya.

"Tapi untuk apa?" Ia bergumam.

Nilai bagus atau jelek, ia juga tak kuasa. Ia tak ada kemampuan untuk melanjutkan sekolah anaknya ke perguruan tinggi.

Bagaimana mau ke perguruan tinggi kalau uang mukanya puluhan juta. Belum lagi uang SPP semesteran atau tahunan yang juga juta-jutaan.

"Aahh....!"

Ia teringat 27 tahun silam ketika ia lulus dari SMA di sebuah kampung di Sumatera Selatan dan mendapat undangan dari Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Andi Hakim Nasution. Orang tuanya senangnya bukan main karena cita-citanya dulu kesampaian juga, meski lewat anaknya.

Waktu itu, ayahnya sadar akan kemampuannya membiayai sekolah di perguruan tinggi, seperti keinginannya di era tahun 50-an. Kali ini, dengan tekad bulat, sang ayah mengirim juga anaknya ke Bogor. Untunglah tak ada uang pangkal. SPP-nya pun cuma Rp 22.500 per semester. Biaya hidup ketika itu cuma Rp 30.000 per bulan, termasuk uang kos-kosan.

"Berangkatlah kau anakku. Berangkatlah ke Bogor. Bapak akan usahakan biayanya."

Kini anak itu sudah menyandang gelar insinyur dan sudah bekerja di Jakarta. Dan, giliran insinyur itu yang mengurut dada memikirkan nasib anaknya yang baru saja lulus SMA.

"Gila. Bapakku dulu, hidup di kampung nun jauh di Sumatera Selatan bisa menyekolahkan enam anaknya hingga meraih sarjana semua. Di Jawa. Bapakku hanya lulusan SMP. Aku insinyur, tinggal di pinggiran Jakarta, kini aku bingung menyekolahkan anakku ke perguruan tinggi."

Ia merenung di depan TV sendirian.

"Dulu, orang desa dengan penghasilan pas-pasan bisa menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Kini, hanya orang kaya yang bisa meraih gelar sarjana. Edan!"

Sudah pukul 11 malam lewat. Lamunannya terjaga oleh iklan Mendiknas Bambang Soedibjo yang lantang bicara tentang biaya pendidikan SD gratis. SMP menyusul gratis.

"Aaahhh....! Apa sesungguhnya yang dilakukan pemerintah. SD dan SMP digratiskan, tapi menutup rapat orang tak mampu melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi, meski si anak memang pintar."

Ia mematikan TV dan 'mematikan' dirinya sendiri di tempat tidur. Tapi ia tetap tak bisa tidur juga hingga fajar menjelang.


Bogor, 22 Juni 2009

20 Juni 2009

19 Juni 2009

Pieter, CEO Dell Indonesia



Pieter Lydian. Muda, agresif. Pria kelahiran 1973 ini sekarang memimpin bisnis Dell Inc di Indonesia sebagai country manager atau managing director menggantikan Megawaty Khie, yang hengkang ke Hewlett-Packard (HP) Indonesia. Itu terjadi Mei 2009 lalu.

Megawaty Khie sesungguhnya orang baru juga di Dell Indonesia. Perempuan lulusan Southern Illinois, Amerika Serikat (AS) itu, bergabung dengan Dell pada 2007, setelah sebelumnya menjadi direktur PT Microsoft Indonesia.

Sedangkan Pieter Lydian adalah alumnus Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta. Itu berarti, Pieter yang juga suka 'main' saham ini menduduki posisi puncak sebagai CEO Dell Indonesia pada usia 36 tahun. Ia adalah orang Indonesia kesekian yang menjadi CEO pada perusahaan multinasional yang berkantor di Jakarta dalam usia di bawah 40 tahun.

Sebelum dipercaya menjadi country manager Dell Indonesia, Pieter adalah business development director Dell. Dalam jabatan itu, Pieter bertanggung jawab kepada Andreas Ruddy Diantoro, regional managing director South Asia/Developing Markets Group Dell. Kini, dengan jabatan sebagai country manager Dell Indonesia, Pieter Lydian bertanggung jawab pada Pang Yee Beng, regional general manager Dell untuk Singapura, Indonesia dan Malaysia, yang berbasis di Kuala Lumpur.

18 Juni 2009

Jalan Menuju CEO

Ada begitu banyak perusahaan multinasional (MNC) membuka kantor di Indonesia, tak terkecuali MNC yang bergerak di bidang teknologi informasi (TI). Banyak orang pintar Indonesia yang memimpin MNC itu di Indonesia, baik sebagai presiden direktur atau country manager. Bila ditelisik, tampilnya orang lokal menjadi chief executive officer (CEO) pada MNC itu terjadi pada tahun 2002. Seperti serentak.


Awalnya IBM yang memeloporinya pada tahun 80-an, lalu diikuti Microsoft, Hewlett-Packard (HP), Intel, Dell, Cisco, Nokia, Sun Microsystems, dan banyak MNC lainya. Mereka yang kemudian memimpin MNC itu rata-rata lulusan perguruan tinggi nasional, baik negeri maupun swasta. Rata-rata mereka yang menduduki posisi puncak pada MNC di Tanah Air itu dalam usia relatif muda, di bawah 40 tahun.


Sebut saja Andreas Ruddy Diantoro, yang memimpin bisnis Dell Inc di 23 negara di kawasan Asia Selatan dalam usia 36 tahun. Pun begitu dengan Hasan Aula, yang menjadi country manager Nokia Indonesia dalam usia 38 tahun. Elisa Lumbantoruan, bahkan dalam usia 35 tahun sudah menjadi presiden direktur Hewlett-Packard (HP) Indonesia, sebelum akhirnya diminta Kemeterian BUMN untuk menjadi direktur TI dan Strategis pada PT Garuda Indonesia.


Selain itu ada Budi Wahyu Jati (country manager Intel Indonesia), Irfan Setiaputra (country manager Cisco Systems Indonesia), dan Tony Chen (presiden direktur PT Microsoft Indoensia) yang menjadi CEO pada usia 38 tahun. Irfan Setiaputra, kemudian diminta pula oleh Kementerian BUMN untuk memimpin sebagai presiden direktut PT Inti (Persero). Sedangkan Suryo Suwignjo (presiden direktur PT IBM Indonesia) dan Wibisono Gumulya (presiden direktur PT Sun Microsystems Indonesia) menjadi CEO dalam usia 42 tahun.


Mereka merintis karier dari bawah pada perusahaan tersebut. Namun, ada juga yang loncat dari perusahaan satu ke perusahaan lain sebelum akhirnya memimpin MNC tersebut. Yang pasti, mereka semua memulai karier sebagai tenaga sales.

Mereka pada intinya memasarkan produk TI di Indonesia, tetapi sejatinya juga memasyarakatkan penggunaan TI di Nusantara ini. Kepada anak-anak, pelajar, mahasiswa, orang tua, dan dunia usaha, baik perusahaan besar maupun usaha kecil dan menengah (UKM).


Talenta mereka telah membuka belenggu keragu-raguan dan ketidakpercayaan MNC terhadap talenta orang Indonesia. Sepak terjang mereka di MNC itu sedikit banyak menginspirasi banyak orang, terutama para pelajar dan mahasiswa, serta mereka yang baru berkiprah di dunia kerja atau bahkan sedang merintis karier.