22 Juni 2009

'Pembodohan' Nasional

"Pak Sus, Dina lulus ga?"

Yang ditanya mengangguk sehingga penanya memberondongnya dengan pertanyaan lain.

"Berapa NEM-nya?"

'Empat puluh enam koma lapan? Ucup lulus juga? Berapa NEM-nya?"

"Lulus lah. 54,9!"

"Wah, hebat dong. Berarti rata-ratanya sembilan lebih!"

"Hebat apanya? Wong 60% jawaban soalnya sudah diisi."

"Iya sih! Dina juga cerita, waktu ujian, dia boleh bawa hp. Waktu ngerjain soal tiba-tiba ada SMS. Dia gak tau SMS dari siapa. Tapi isinya adalah jawaban soal ujian. Ha...ha..ha...."

Berdua tertawa. Pendengar lain ikut tertawa.

"Itu karena sekolah punya target agar semua siswanya lulus 100%. Demi nama baik sekolah dan demi nama baik guru-gurunya."

Inilah percakapan yang tersiar di warung kopi. Entah benar atau tidak, faktanya ada beberapa sekolah yang karena salah kasih bocoran jawaban akhirnya 100% siswanya tak lulus.

Apa yang sesungguhnya diharapkan dari program ujian nasional itu kalau sesungguhnya menjadi program penghancuran generasi muda Indonesia. Demi nama sekolah. Demi makin banyaknya siswa baru yang mendaftar. Demi kocek sekolah, saku yayasan dan pengurusnya. Ujung-ujungnya duit juga.

Ada yang hanya diam mendengar obrolan warung kopi itu. Ia ingin segera pulang menanyai anaknya.

"Tapi untuk apa?" Ia bergumam.

Nilai bagus atau jelek, ia juga tak kuasa. Ia tak ada kemampuan untuk melanjutkan sekolah anaknya ke perguruan tinggi.

Bagaimana mau ke perguruan tinggi kalau uang mukanya puluhan juta. Belum lagi uang SPP semesteran atau tahunan yang juga juta-jutaan.

"Aahh....!"

Ia teringat 27 tahun silam ketika ia lulus dari SMA di sebuah kampung di Sumatera Selatan dan mendapat undangan dari Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Andi Hakim Nasution. Orang tuanya senangnya bukan main karena cita-citanya dulu kesampaian juga, meski lewat anaknya.

Waktu itu, ayahnya sadar akan kemampuannya membiayai sekolah di perguruan tinggi, seperti keinginannya di era tahun 50-an. Kali ini, dengan tekad bulat, sang ayah mengirim juga anaknya ke Bogor. Untunglah tak ada uang pangkal. SPP-nya pun cuma Rp 22.500 per semester. Biaya hidup ketika itu cuma Rp 30.000 per bulan, termasuk uang kos-kosan.

"Berangkatlah kau anakku. Berangkatlah ke Bogor. Bapak akan usahakan biayanya."

Kini anak itu sudah menyandang gelar insinyur dan sudah bekerja di Jakarta. Dan, giliran insinyur itu yang mengurut dada memikirkan nasib anaknya yang baru saja lulus SMA.

"Gila. Bapakku dulu, hidup di kampung nun jauh di Sumatera Selatan bisa menyekolahkan enam anaknya hingga meraih sarjana semua. Di Jawa. Bapakku hanya lulusan SMP. Aku insinyur, tinggal di pinggiran Jakarta, kini aku bingung menyekolahkan anakku ke perguruan tinggi."

Ia merenung di depan TV sendirian.

"Dulu, orang desa dengan penghasilan pas-pasan bisa menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Kini, hanya orang kaya yang bisa meraih gelar sarjana. Edan!"

Sudah pukul 11 malam lewat. Lamunannya terjaga oleh iklan Mendiknas Bambang Soedibjo yang lantang bicara tentang biaya pendidikan SD gratis. SMP menyusul gratis.

"Aaahhh....! Apa sesungguhnya yang dilakukan pemerintah. SD dan SMP digratiskan, tapi menutup rapat orang tak mampu melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi, meski si anak memang pintar."

Ia mematikan TV dan 'mematikan' dirinya sendiri di tempat tidur. Tapi ia tetap tak bisa tidur juga hingga fajar menjelang.


Bogor, 22 Juni 2009

20 Juni 2009

19 Juni 2009

Pieter, CEO Dell Indonesia



Pieter Lydian. Muda, agresif. Pria kelahiran 1973 ini sekarang memimpin bisnis Dell Inc di Indonesia sebagai country manager atau managing director menggantikan Megawaty Khie, yang hengkang ke Hewlett-Packard (HP) Indonesia. Itu terjadi Mei 2009 lalu.

Megawaty Khie sesungguhnya orang baru juga di Dell Indonesia. Perempuan lulusan Southern Illinois, Amerika Serikat (AS) itu, bergabung dengan Dell pada 2007, setelah sebelumnya menjadi direktur PT Microsoft Indonesia.

Sedangkan Pieter Lydian adalah alumnus Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta. Itu berarti, Pieter yang juga suka 'main' saham ini menduduki posisi puncak sebagai CEO Dell Indonesia pada usia 36 tahun. Ia adalah orang Indonesia kesekian yang menjadi CEO pada perusahaan multinasional yang berkantor di Jakarta dalam usia di bawah 40 tahun.

Sebelum dipercaya menjadi country manager Dell Indonesia, Pieter adalah business development director Dell. Dalam jabatan itu, Pieter bertanggung jawab kepada Andreas Ruddy Diantoro, regional managing director South Asia/Developing Markets Group Dell. Kini, dengan jabatan sebagai country manager Dell Indonesia, Pieter Lydian bertanggung jawab pada Pang Yee Beng, regional general manager Dell untuk Singapura, Indonesia dan Malaysia, yang berbasis di Kuala Lumpur.

18 Juni 2009

Jalan Menuju CEO

Ada begitu banyak perusahaan multinasional (MNC) membuka kantor di Indonesia, tak terkecuali MNC yang bergerak di bidang teknologi informasi (TI). Banyak orang pintar Indonesia yang memimpin MNC itu di Indonesia, baik sebagai presiden direktur atau country manager. Bila ditelisik, tampilnya orang lokal menjadi chief executive officer (CEO) pada MNC itu terjadi pada tahun 2002. Seperti serentak.


Awalnya IBM yang memeloporinya pada tahun 80-an, lalu diikuti Microsoft, Hewlett-Packard (HP), Intel, Dell, Cisco, Nokia, Sun Microsystems, dan banyak MNC lainya. Mereka yang kemudian memimpin MNC itu rata-rata lulusan perguruan tinggi nasional, baik negeri maupun swasta. Rata-rata mereka yang menduduki posisi puncak pada MNC di Tanah Air itu dalam usia relatif muda, di bawah 40 tahun.


Sebut saja Andreas Ruddy Diantoro, yang memimpin bisnis Dell Inc di 23 negara di kawasan Asia Selatan dalam usia 36 tahun. Pun begitu dengan Hasan Aula, yang menjadi country manager Nokia Indonesia dalam usia 38 tahun. Elisa Lumbantoruan, bahkan dalam usia 35 tahun sudah menjadi presiden direktur Hewlett-Packard (HP) Indonesia, sebelum akhirnya diminta Kemeterian BUMN untuk menjadi direktur TI dan Strategis pada PT Garuda Indonesia.


Selain itu ada Budi Wahyu Jati (country manager Intel Indonesia), Irfan Setiaputra (country manager Cisco Systems Indonesia), dan Tony Chen (presiden direktur PT Microsoft Indoensia) yang menjadi CEO pada usia 38 tahun. Irfan Setiaputra, kemudian diminta pula oleh Kementerian BUMN untuk memimpin sebagai presiden direktut PT Inti (Persero). Sedangkan Suryo Suwignjo (presiden direktur PT IBM Indonesia) dan Wibisono Gumulya (presiden direktur PT Sun Microsystems Indonesia) menjadi CEO dalam usia 42 tahun.


Mereka merintis karier dari bawah pada perusahaan tersebut. Namun, ada juga yang loncat dari perusahaan satu ke perusahaan lain sebelum akhirnya memimpin MNC tersebut. Yang pasti, mereka semua memulai karier sebagai tenaga sales.

Mereka pada intinya memasarkan produk TI di Indonesia, tetapi sejatinya juga memasyarakatkan penggunaan TI di Nusantara ini. Kepada anak-anak, pelajar, mahasiswa, orang tua, dan dunia usaha, baik perusahaan besar maupun usaha kecil dan menengah (UKM).


Talenta mereka telah membuka belenggu keragu-raguan dan ketidakpercayaan MNC terhadap talenta orang Indonesia. Sepak terjang mereka di MNC itu sedikit banyak menginspirasi banyak orang, terutama para pelajar dan mahasiswa, serta mereka yang baru berkiprah di dunia kerja atau bahkan sedang merintis karier.