04 Oktober 2019

Hendra Lesmana Jadi CEO NTT Indonesia

NTT Ltd mengangkat Hendra Lesmana sebagai chief executive officer (CEO) NTT Ltd Indonesia. Perusahaan juga menetapkan Mizuho Tada sebagai presiden direktur PT NTT Indonesia.
PT NTT Indonesia sebelumnya bernama PT Dimension Data adalah perusahaan penyedia layanan teknologi informasi yang beroperasi di Tanah Air.
Baik Hendra maupun Mizuho akan bertanggung jawab untuk memastikan pencapaian target ambisius yang ditetapkan NTT Ltd dalam menawarkan jasa layanan infrastruktur ICT dan bisnis pusat data di Indonesia.
"Saya dengan bangga mengumumkan penunjukan Bapak Hendra Lesmana sebagai CEO NTT Ltd Indonesia dan Bapak Mizuho Tada sebagai presiden direktur PT NTT Indonesia. Mereka akan memimpin organisasi bisnis kami di Indonesia," kata CEO NTT Ltd Asia Pasifik, John Lombard, melalui pernyataan tertulis, Jumat (4/10/2019).
Lombard juga mengapresiasi langkah-langkah konkret yang dilakukan banyak perusahaan di kawasan Asia Pasifik, terutama yang menjadi bagian dari keluarga besar NTT Ltd, termasuk PT Dimension Data, DTSI, Emerio, NTT Communications, NTT Security dan Training Partners.
Hendra dan Tada, lanjut Lombard, nantinya secara bersama-sama akan bertanggung-jawab kepada Kepala Subwilayah ASEAN Kim-Meng Png, yang berkedudukan di Singapura. Ini terkait dengan pengembangan strategis dan operasional perusahaan. Png bertanggung jawab untuk penjualan di Asia Tenggara, yang meliputi Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Filipina.
Di akun Facebooknya, Hendra Lesmana tercantum sebagai alumni Universitas Surabaya angkatan 1994 jurusan Chemical Engineering.
Ia pernah bekerja di PT Multipolar Technology Tbk pada 2001-2005. Lalu, pada 1 Februari 2005, ia bergabung dengan PT Datacraf Indonesia yang pada 2011 berganti nama menjadi PT Dimension Indonesia. Pada 2002, ia dipercaya sebagai Regional Enterprise Architec Dimension Data Asia Pacific.
Karirnya terus menanjak dan pada 2015, ia dipercaya sebagai Chief Operations Office PT Dimension Data Indonesia dan enam bulan kemudian (tepatnya pada 2 Novermver 2015) ia diangkat menjadi Country General Manager PT Dimension Data Indonesia.
Pada 2019 lagi-lagi berganti PT Dimension Data berubah nama menjadi PT NTT Indonesia. Dan, Hendra Lesmana masih tetap dipercaya untuk memimpinnya.
Oleh karena itu, Hendra Lesmana mengatakan, merupakan suatu kehormatan untuk terus memimpin bisnis NTT Ltd di Indonesia menuju era baru. "Kami senang dapat menawarkan kepada klien-klien di Indonesia akses brand NTT untuk beragam keahlian dan luasnya cakupan kemampuan," kata Hendra.
Sementara itu, Mizuho Tada menambahkan, Indonesia adalah pasar yang sangat penting bagi NTT. "Kami berkomitmen untuk menumbuhkan pasar infrastruktur dan layanan TIK di Indonesia, serta menyediakan transfer teknologi inovatif ke bisnis-bisnis di Indonesia. Bersama-sama kita melakukan hal-hal besar," kata Tada.

19 September 2019

Karaniya Dharmasaputra Jadi CEO OVO

Karaniya Dharmasaputra, salah satu pendiri PT Bareksa Portal Investasi (Bareksa), per September 2019 ini diangkat menjadi Presiden PT Visionet Internasional (OVO).
Dalam keterangan resmi perusahaan, Kamis (19/9/2019), Karaniya Dharmasaputra menggantikan posisi Andrian Suherman yang telah memimpin OVO tiga tahun terakhir.
"Kepercayaan ini merupakan sebuah amanah untuk terus membangun OVO, bukan hanya sebagai pelaku industri tekfin terpercaya tapi juga sebagai aset nasional strategis. OVO harus berpihak dan bermanfaat bagi Indonesia," ujar Karaniya.
OVO adalah platform pembayaran digital yang masuk dalam pohon bisnis Lippo Digital Group. OVO telah memiliki lisensi e-money di Indonesia, dan telah menjadi mitra pembayaran digital GrabPay.
Sejak diluncurkan pada September 2017, OVO telah digunakan oleh lebih dari 115 juta pengguna dan juga 300.000 mitra UMKM di 354 kota di Indonesia. OVO adalah salah satu platform pembayaran digital dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia.
Ditunjuknya Karaniya sebagai CEO diharapkan bisa terus menumbuhkembangkan OVO.
Namun, lulusan sarjana ilmu politik di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini tidak melepas jabatannya sebagai CEO Bareksa.
Ia beralasan, Bareksa dan OVO sedang dalam proses integrasi bisnis. Proses integrasi itu masih menunggu izin dari Bank Indonesia (BI).
Pria yang meraih gelar Master of Public Policy di The George Washington University ini adalah pendiri dan sekaligus sebagai CEO Bareksa sejak Januari 2014. Sebelumnya ia pernah malang melintang di  perusahaan media, seperti The Jakarta Post, Kompas, Tempo dan Viva.

04 September 2019

Insinyur Pertanian Pimpin BRI

Setelah "ditinggal" Suprajarto, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Rapat tersebut mengangkat Sunarso, dari Wakil Dirut menjadi Direktur Utama (Dirut) BRI. Sementara itu, posisi Wadirut diisi oleh Catur Budi Harto.
"RUPSLB juga memutuskan perubahan anggota dewan komisaris dan direksi," kata Sunarso dalam acara konpers usai RUPLSB, di Gedung BRI 1, Jakarta, Senin (2/9).
Soenarso mengenyam pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor (IPB) , jurusan Agronomi. Setelah itu, pria kelahiran Pasuruan, 7 November 1963 ini melanjutkan ke jenjang S2 bidnag Administrasi Bisnis di Universitas Indonesia.
Sunarso sebenarnya sudah sejak 2015 menjadi wadirut BRI. Namun pada Oktober 2017, ia dipercaya utk menjsdi orang nomor satu di PT Pegadaian. Pada Januari 2019, ia diminta kembali ke BRI sebagai wadirut lagi.
Pengalaman profesional Sunarso dimulai di Bank Dagang Negara yang kemudian merger dengan Bank Bumi Daya, Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) dan Bank Ekpor Impor Indonesia menjadi Bank Mandiri.
Jabatan tertinggi yang pernah diembannya di bank hasil merger itu adalah sebagai Direktur Commercial & Business Banking sejak tahun 2010 hingga 2015.

01 September 2019

Suprajarto Memilih Mundur

Kamis, 29 Agustus 2019 adalah hari yang kusut buat Suprajarto. Siang hari ia masih dirut BRI, sore harinya ia dapat kabar diangkat jadi dirut BTN, dan malam harinya ia mundur, melepaskan jabatan sebagai orang nomor satu di bank plat merah itu.
Kejadian itu bertepatan sehari setelah hari lahirnya. Pria kelahiran 28 Agustus 1965 itu merasa tak pernah diajak bicara tentang kepindahannya dari BRI ke BTN.
"Saya tidak pernah diajak bicara sebelumnya. Apalagi diajak musyawarah. Saya memutuskan mengundurkan diri dari hasil keputusan RUPSLB BTN itu," ujar lulusan S3 Manajemen Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung itu di Jakarta, Kamis malam (29/8).
Suprajarto sudah 30 tahun malang melintang di BRI hingga pada 2015 ia diminta ke Bank Negara Indonesia (BNI) untuk menduduki jabatan sebagai Wakil Dirut BNI. Lalu, ia kembali lagi untuk memimpin BRI pada Maret 2017 menggantikan Asmawi Syam.
Anehnya, Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo menyatakan Suprajarto telah mengetahui rencana penunjukannya sebagai dirut BTN menggantikan Maryono. "Sudah (tahu)," ujar Gatot.

03 Agustus 2019

Ahmad Abdulaziz Al Neama Jadi CEO Indosat Ooredoo

Indosat Ooredoo mengangkat Ahmad Abdulaziz Al Neama sebagai CEO & Direktur Utama Indosat Ooredoo menggantikan Crish Kanter.
Keputusan itu diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar di kantor pusat Indosat di Jakarta pada Kamis (1/8).
Selain mengangkat Ahmad Al Neama jadi CEO perusahaan, hasil rapat tersebut juga mengungkap sejumlah perubahan dan penetapan Dewan Direksi dan Dewan Komisaris Indosat.
Ahmad Al Neama sendiri sudah bekerja di Ooredoo Group selama 15 tahun. Ia menjabat posisi Chief Technology and Information Officer di Ooredoo sejak 2017, dan juga berperan sebagai anggota Dewan Direksi Ooredoo Myanmar.
Berikut daftar susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi Indosat Ooredoo.

Dewan Komisaris

1. Waleed Mohamed Ebrahim Alsayed, Komisaris Utama
2. Hans Anthony Kuropatwa, Komisaris
3. Hilal Suleiman Malawi, Komisaris
4. Heru Pambudi, Komisaris
5. Afini Boer, Komisaris
6. Andrew Tor Oddvar Kvålseth, Komisaris
7. Chris Kanter, Komisaris
8. Syed Maqbul Quader, Komisaris Independen
9. Elisa Lumbantoruan, Komisaris Independen
10. Wijayanto Samirin, Komisaris Independen

Dewan Direksi

1. Ahmad Abdulaziz A A Al-Neama, Direktur Utama
2. Eyas Naif Saleh Assaf, Direktur
3. Arief Musta’in, Direktur
4. Vikram Sinha, Direktur
5. Irsyad Sahroni, Direktur Independen

15 Juli 2019

Chun Li, CEO Lazada Indonesia

Lazada Group menunjuk salah satu bosnya, Chun Li,  untuk memimpin Lazada Indonesia. Chun Li yang baru bergabung dua tahun dengan Lazada Group diharapkan mampu mendongkrak kinerja Lazada Indonesia.

Pierre Poignant, CEO Lazada Group, menyatakan, penunjukan Chun Li sebagai CEO Lazada Indonesia tak lain  karena pengalamannya. Saat ini, Chun Li masih menjabat sebagai Co-President Lazada Group. Oleh karena itu, ia paham sangat mendalam tentang perusahaan e-commerce.

"Kami percaya Chun Li adalah orang yang tepat untuk memimpin usaha kami di Indonesia. Ia akan memimpin babak baru pertumbuhan dan kontribusi Lazada di Indonesia," kata Poignant melalui keterangan pers, belum lama ini.

Lagi-lagi bukan orang asli Indonesia yang memimpin Lazada Indonesia. Chun Li menggantikan Alessandro Piscini, yang menjabat CEO Lazada Indonesia sejak Mei 2018.

Chun Li memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun bekerja dalam bidang e-commerce. Sebelumnya, Ia juga pernah bekerja di Alibaba Group, eBay dan PayPal.

Sementara itu, Chun Li  menyatakan siap dan akan fokus dalam memanfaatkan solusi berbasis data, teknologi, jaringan logistik. Ia juga akan memanfaatkan ekosistem yang didukung Alibaba untuk meningkatkan pengalaman berbelanja.
"Saya sangat antusias untuk memimpin babak baru perjalanan pertumbuhan Lazada dalam momen transformatif era ekonomi digital di Indonesia," ujar Chun Li.

02 Juni 2019

Ririek Adriansyah Jadi Dirut Telkom

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah diangkat menjadi Direktur Utama PT Telekomuniasi Indonesia (Telkom) menggantikan Alex Sinaga yang sudah habis masa jabatannya.
Keputusan ini ditetapkam dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Telkom yang digelar Jumat (24/5/2019).
Ririek Adriansyah telah malang melintang di Telkom. Sebelum ditunjuk untuk menahkodai perusahaan palt merat ini, ia adalah Direktur Utama Telkomsel. Ia memimpin anka usaha Telkom itu sejak Januari 2015.
Ririek merupakan lulusan Teknik Elektro dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1989. Sebelum menjadi Direktur Utama Telkomsel, ia telah menduduki sejumlah jabatan penting di Telkom dan anak usaha Telkom Grup.
Ririek mengawali kariernya di Telkom sebagai Deputi EGM Divisi Infratel sejak 2004 hingga 2008. Kemudian dia menjadi Direktur International Carrier Service Telekomunikasi Indonesia Internatioal (Telin) pada 2008 hingga 2010,  Direktur Marketing & Sales, PT Telin pada 2010-2011, dan menjadi dirut Telin pada 2011 hingga 2012.

Dewan Direksi:

Ririek Adriansyah (Direktur Utama)
Harry M Zen (Direktur Keuangan)
Siti Choiriana (Direktur Consumer Service)
Zulhelfi Abidin (Direktur Network & IT Solution)
Edwin Aristiawan (Direktur Wholesale & International Service )
Edi Witjara (Direktur Human Capital Management)
Faisal Rohmad Jumadi (Direktur Digital Business)
Achmad Soegiarto (Direktur Digital & Strategic Portfolio)
Bogi Witjaksono (Direktur Enterprise & Business Service)

Dewan Komisaris:

Rhenald Kasali (Komisaris Utama & Komisaris Independen)
Edwin Hidayat Abdullah (Komisaris)
Isa Rachmatarwata (Komisaris)
Ismail (Komisaris)
Marcelino Pandin (Komisaris)
Marsudi Wahyu Kisworo (Komisaris)
Cahyana Ahmadjayadi (Komisaris Independen)
Margiyono Darsasumarja (Komisaris Independen)

30 Mei 2019

Emma Sri Martini Jadi Dirut Telkomsel

Begitu Ririek Adriansyah diangkat menjadi Dirut PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk, PT Telkomsel juga menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Rapat itu memutuskan  Emma Sri Martini sebagai Direktur Utama Telkomsel.
RUPST Telkomsel itu dihadiri para pemegang saham, yakni Telkom dan  Singapore Telecommunications Ltd. (SingTel).
Emma adalah sarjana Informatika ITB tahun 1993. Ia orang baru di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia itu.
Sebelum diangkat menjadi orang nomor satu di anak usaha Telkom itu, Emma menjabat sebagai Direktur PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) sejak 2009.
Selain itu, Emma pernah menjabat Direktur Keuangan dan Support di PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) dari 2004 hingga 2009, sekaligus menjadi Komisaris PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (2004-2009).
Bahkan, pada 2002 hingga 2004, ia juga pernah menjabat sebagai Senior Vice President di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
RUPST Telkomsel 2019 juga mengangkat jajaran direksi Telkomsel yang baru. Berikut adalah jajaran direksi Telkomsel yang baru.

> Direktur Utama: Emma Sri Martini
> Direktur Keuangan: Herry Supriadi
> Direktur HCM: Irfan A. Tachrir
> Direktur Network: Iskriono Windiarjanto
> Direktur Sales: Ririn Widaryani
> Direktur Planning & Transformation: Edward Siew Ying
> Direktur IT: Bharat Alva
> Direktur Marketing: Alistair Johnston

04 Mei 2019

Adrian Suherman Jadi Presdir MPPA

Adrian Suherman diangkat menjadi Presiden Direktur (Presdir) PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA). Hal itu  disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), April 2019.

Adrian Suherman yang pernah bekerja di Telkomsel dengan posisi terakhir sebagai vice president itu menggantikan Bunjamin J. Mailool yang telah 18 tahun berkiprah dengan MPPA.
"Dengan antusias kami menyambut Bapak Bunjamin J. Mailool bergabung dalam Dewan Komisaris," kata Presiden Komisaris Independen MPPA John Bellis.
Selain pernah di Telkomsel, Adrian juga pernah menjadi CEO PT aCommerce Logistik Lestari, Commissioner PT Solusi e-Commerce Global, dan Presiden Direktur PT Visionet International (OVO).
"Kami optimistis talenta dan kepemimpinan Adrian akan memberikan kontribusi positif dalam memimpin MPPA ke depan," kata dia.

Dewan Komisaris:
> Presiden Komisaris Independen : John Bellis
> Wakil Presiden Komisaris Independen : Roy Nicholas Mandey
> Komisaris Independen : William Travis Saucer
> Komisaris Independen : Chua Siang Hwee, Jeffrey
> Komisaris Independen : Liu Wai Ling
> Komisaris : John Riady
> Komisaris : Rudy Ramawy
> Komisaris : Bunjamin J. Mailool
Komisaris : Henry J. Liando

Dewan Direksi:
> Presiden Direktur : Adrian Suherman
> Direktur : Fendi Santoso
> Direktur : Andre Rumantir
> Direktur : Widhayati Hendropurnomo

05 Februari 2014

Satya Nadella, CEO baru Microsoft

Namanya mirip orang Indonesia, tapi bukan. Satya Nadella adalah pria kelahiran Hyderabad, India, 46 tahun silam. Kini, ia dipercaya sebagai Chief Executive Officer (CEO) Microsoft menggantikan Steve Ballmer. Sebelumnya ia menjabat  Executive Vice President untuk Grup Cloud and Enterprise Microsoft. 
Sejak bergabung tahun 1992, Nadella telah memimpin beberapa strategi dan pergeseran teknis terpenting dalam portfolio produk dan layanan Microsoft, terutama dalam misinya memasuki cloud dan dalam mengembangkan salah satu infrastruktur cloud terbesar di dunia yang mendukung Bing, Xbox, Office dan layanan lainnya. Selama mengepalai grup Server and Tools Business (STB), divisi tersebut jauh melampaui kinerja pasar dan mengambil alih pangsa dari pesaing.
“Dalam masa transformasi ini, tak ada yang lain yang lebih tepat memimpin Microsoft selain Satya Nadella,” kata Bill Gates, Pendiri dan anggota Dewan Direksi Microsoft, dalam siaran pers, Rabu (5/2/2014).
Satya memiliki rekam jejak kepemimpinan dengan keterampilan rekayasa kelas-berat, visi bisnis, serta kemampuan mempersatukan tim. Visinya tentang bagaimana teknologi akan digunakan dan dirasakan di seluruh dunia benar-benar sesuai dengan apa yang dibutuhkan Microsoft sebagai perusahaan yang tengah memasuki babak baru pertumbuhan dan inovasi produk yang lebih luas.
“Microsoft adalah salah satu dari sedikit perusahaan yang benar-benar telah merevolusi dunia melalui teknologi, dan saya mendapat kehormatan yang amat besar telah terpilih memimpin perusahaan ini. Peluang bagi Microsoft ke depan sangat besar, tapi untuk memanfaatkannya, kami harus menetapkan fokus yang jelas, bergerak lebih cepat, dan terus melakukan transformasi. Tugas terbesar saya adalah mengakselerasi kemampuan Microsoft menghadirkan produk-produk inovatif kami ke konsumen secara lebih cepat,” kata Nadella.
Sementara itu, mantan CEO Microsoft Steve Ballmer mengaku, setelah bekerja bersama Nadella selama lebih dari 20 tahun, saya paham bahwa Satya adalah pemimpin yang tepat pada saat yang tepat bagi Microsoft. Steve Ballmer telah mengundurkan diri sebagai CEO Microsoft pada 23 Agustus 2013. 
“Saya mendapatkan pengalaman istimewa bekerja dengan orang-orang dan tim kepemimpinan senior paling berbakat di industri ini. Saya mengenal semangat dan hasrat mereka yang hebat, dan saya yakin akan menjadi lebih dahsyat di bawah kepemimpinan Satya,” kata Steve Ballmer.
Selain itu, Microsoft juga mengumumkan kembalinya Bill Gates, yang sebelumnya menjabat Ketua Dewan Direksi, dengan jabatan baru di Dewan Direksi, yakni sebagai Founder and Technology Advisor. Dengan jabatan ini akan memberinya lebih banyak waktu bagi Microsoft, serta memberi dukungan kepada Nadella dalam menentukan arah teknologi dan produk. Sedangkan John Thompson yang sebelumnya menjabat kepala direktur independen dalam Dewan Direksi, kini akan menjabat posisi Ketua Dewan Direksi dan tetap menjadi direktur independen di  Dewan Direksi.




17 April 2013

ALEXANDER RUSLI, Kesempatan Selalu Ada

MUDA, ramah, dan meyakinkan. Berbekal tiga hal itu, Alexander Rusli cepat akrab dengan para wartawan. Ia bahkan menjadi salah satu kesayangan media (media darling), khususnya di jagat bisnis telekomunikasi.  Alex —begitu ia kerap disapa— memang membuat kagum banyak orang. Pada usianya yang baru 42 tahun, ia sudah menyandang jabatan prestise sebagai direktur utama/ chief executive officer (CEO) PT Indosat Tbk, operator seluler papan atas Indonesia.

Di perusahaan publik sekaliber Indosat, tanggung jawab Alex sungguh berat. Apalagi tahun lalu kinerja Indosat sempat terpuruk. Utang perusahaan mencapai puluhan triliun rupiah. Belum lagi kasus dugaan penyalahgunaan frekuensi 2,1 GHz yang masih membelit Indosat dan anak usahanya, PT Indosat Mega Media (IM2).

Alex, yang menerima estafet kepemimpinan dari Harry Sasongko mulai 1 November 2012, ternyata tipe eksekutif berdaya juang tinggi dan tahan banting. Tekanan dan tantangan justru makin mengobarkan semangat dan optimismenya. “Saya yakin peluang dan kesempatan selalu ada. Tinggal bagaimana memanfaatkan dan memaksimalkannya sebaik mungkin,” tutur Alexander Rusli kepada wartawan Investor Daily Rizagana dan Farid Firdaus di Jakarta, belum lama ini.

Selengkapnya, baca di  Investor Daily

16 April 2013

Dari Blackberry, Eka Anwar Hijrah ke Esia

Akhirnya terjawab sudah rumor yang beredar selama ini mengenai Eka Anwar. Sosok yang sebelumnya menjabat Direktur Marketing BlackBerry Indonesia itu telah ditunjuk sebagai Chief Marketing Officer PT Bakrie Telecom Tbk dan efektif mulai awal Mei 2013.
Eka sudah delapan tahun berkiprah di industri telekomunikasi Indonesia. Sejak meraih gelar Master of Business Administriation (MBA) Marketing dari City University, Seattle, Amerika Serikat (AS), Eka memuilai karier di perusahaan properti. Pada 2006, ia menjadi Marketing Manajer Nokia Indonesia. Ia sempat menjadi Multimedia Retail Manager yang mengurus Nokia N-series.
Pada 2010, Eka hijrah ke pesaing Nokia, yakni Samsung. Di vendor ponsel berbasis di Korea Selatan itu, ia dipercaya sebagai Head of Marketing for Mobilephone Business. Ia ikut mendongkrak pamor Galaxy Tab.
Pada akhir 2011, tiba-tiba Eka “menghilang”, dan pada Januari 2012 namanya harum kembali. Ia telah “muncul” sebagai Direktur Marketing Research In Motion (RIM), yang kemudian berubah menjadi Blackberry.
Banyak yang bertanya-tanya tentang keputusannya hengkang dari Blackberry ke operator Esia itu, mengingat kinerja operator CDMA itu terus merosot dalam dua tahun terakhir ini. Pada 2012, operator CDMA itu merugi Rp 3,14 triliun atau meningkat hampir empat kali lipat dibanding kerugian yang diderita perseroa pada 2011, yang sebesar Rp 783 miliar.

Rajesh Thadani Pimpin Lenovo Indonesia



Lenovo mengangkat Rajesh Thadani sebagai President Director PT Lenovo Indonesia, efektif mulai April 2013. Ia akan memperkuat posisi Sandy Lumy, yang akan memegang posisi sebagai Chief Operating Officer (COO) dan Relationship Lead di Indonesia.
Rajesh akan memegang jabatan sebagai Country General Manager (CGM) dan anggota dari Asean Leadership Team. Dia akan berkantor di Jakarta, dan bertanggung jawab langsung kepada Koh Kong Meng, vice president dan general manager Lenovo Asean.
“Kemitraan antara Sandy, Rajesh dan kantor pusat ASEAN, serta investasi dalam bentuk sumber daya manusia dan bisnis akan membawa Indonesia ke level baru di era PC+,” Koh Kong Meng dalam siaran pers, Selasa (16/4/2013).
Tugas Rajesh antara lain membangun dan mendorong hubungan dengan klien-klien utama di segmen korporasi, mengelola saluran distribusi di segmen consumer dan usaha kecil dan menengah (UKM), serta menangani penjualan serta pemasaran untuk brand dan produk Lenovo secara keseluruhan di Indonesia.
"Indonesia adalah pasar terbesar kami di Asean dan telah memerankan peranan integral dalam memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan Lenovo di kuartal-kuartal yang lalu," ujar Koh Kong Meng.
Rajesh dianggap memiliki latar belakang yang mengesankan. Ia memiliki peran yang besar dalam mengubah bisnis consumer Lenovo di India. Pangsa pasar Lenovo di negeri itu mencapai dua digit, bahkan mampu tumbuh tiga kali lipat pada tahun fiskal 2011/2012 dibandingkan 2010/2011. Lenovo India menjadi satu-satunya retailer PC terbesar dan brand AIO nomor satu di negara tersebut.
"Kami yakin pengalaman besar Rajesh di segmen konsumen akhir dan pengetahuan mendalam Sandy mengenai pasar Indonesia, akan terus meningkatkan pertumbuhan dan pengembangan Lenovo di Indonesia pada tahun-tahun mendatang," kata Koh.
Rajesh, yang baru saja dipromosikan meniadi Executive Director per 1 April 2013, berpengalaman lebih dari 19 tahun di industri teknologi informasi (TI). Rajesh meraih gelar Insinyur di bidang instrumentasi dan pascasarjana di bidang marketing dari Mumbai University.



28 September 2012

Achirul Djamal, dari IBM ke Autodesk




AUTODESK Inc menunjuk Achirul Djamal sebagai Country Manager untuk Indonesia. Mantan Country Manager IBM Software Group di IBM Indonesia ini akan bertanggung jawab dalam mengatur pertumbuhan bisnis Autodesk lintas seluruh industri dan segmen produk serta mengembangkan berbagai kemitraan strategis di Indonesia.
Managing Director Autodesk untuk Asean VR Srivatsan mengatakan sangat senang dapat menyambut Achirul bergabung bersama Autodesk dalam memimpin bisnis Autodesk di Indonesia. Indonesia merupakan pasar penting bagi Autodesk dan kepemimpinan Achirul dipercaya akan dapat membuka banyak peluang baru serta meningkatkan pertumbuhan perusahaan.
“Achirul memiliki pengalaman profesional dari berbagai industri yang kami percaya akan berperan penting dalam pertumbuhan Autodesk dan perkembangannya di Indonesia,” kata Srivatsan dalam keterangan resminya, Jumat, 28 September 2012.
Achirul memiliki pengalaman selama lebih dari 22 tahun lintas industri software, telekomunikasi, minyak, utilitas, dan juga sektor pelayanan publik.
Sebelum bergabung dengan Autodesk, ia sempat menjabat sebagai Country Manager, General Business di PT IBM Indonesia. Pada posisi tersebut lingkup tanggung jawabnya meliputi strategi bisnis, pengembangan bisnis, dan pertumbuhan pendapatan.
Pada 18 tahun masa baktinya di IBM, Achirul menjabat posisi-posisi menantang, termasuk Country Manager untuk jalur bisnis baru, manager produk, dan berbagai posisi di bagian penjualan. Ia juga pernah menjabat sebagai Country Manager IBM Software Group di IBM Indonesia dan Country Manager PT Lotus Development Indonesia (anak perusahaan IBM).
Selama masa baktinya di IBM, Achirul telah mendapatkan beragam penghargaan atas kinerjanya yang luar biasa dan pencapaiannya yang melebihi target penjualan. Achirul memiliki gelar Master di bidang Computer Science dari Universitas Amerika, Washington D.C. dan telah mendapatkan gelar S-2 di bidang teknik mesin dari Universitas Trisakti, Jakarta.

17 September 2012

Alexander Rusli Pimpin Indosat




RAPAT umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Indosat Tbk mengangkat Alexander Rusli menjadi direktur utama dan CEO Indosat menggantikan Harry Sasongko. Meski bukan ‘orang’ Qtel, nama Alexander Rusli, kabarnya diajukan langsung oleh Qatar Telecom (Qtel) selaku pemegang saham pengendali.
"Perpindahan tampuk pimpinan itu akan berlaku efektif per 1 November 2012," demikian keterangan Indosat dalam RUPSLB yang berlangsung di kantor pusat Indosat, Senin, 17 September 2012.
Alexander Rusli lebih banyak berkiprah di BUMN, kementerian, dan perusahaan investasi. Sejak Januari 2010, ia menjabat sebagai komisaris independen Indosat. Dia juga anggota Komite Remunerasi dan Komite Audit Indosat. Ia pernah bekerja di Northstar Pacific sebagai managing director. Dia juga pernah menjadi komisaris independen PT Krakatau Steel Tbk, staf ahli Kementerian BUMN, serta staf ahli Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi.
Sheikh Abdullah Mohammed SA Al-Thani yang mewakili Qtel sebagai Komisaris Utama Indosat mengatakan, selama tiga tahun kepemimpinan Harry Sasongko, Indosat telah melewati banyak tantangan dan semua berhasil dilewati sehingga Indosat menjadi lebih kompetitif.
"Bapak Harry Sasongko telah membawa perseroan melalui kompetisi pasar yang ketat dan memegang peranan kunci dalam menjalankan beberapa inisiatif utama yang membawa perusahaan menjadi lebih kuat dan dapat tumbuh secara berkesinambungan. Kami yakni Bapak Alexander Rusli akan mampu meneruskan kesuksesan yang telah dirintis oleh pendahulunya," ujar Al-Thani.
Qtel adalah pemegang 65% saham Indosat, sedangkan pemerintah Indonesia hanya memiliki 14,29%, dan sisanya dipegang oleh publik.
Al Thani mengatakan, Indosat mengalami banyak tantangan sepanjang tiga tahun terakhir. “Kami menyambut Pak Rusli dalam peran barunya sebagai dirut dan CEO. Kami berharap bisnis perseroan bisa semakin berkembang,” kata dia.
Sementara itu, Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Industri Strategis dan Manufaktur Dwijanti Tjahtjahningsih mengharapkan Alexander Rusli dapat meningkatkan pangsa pasar Indosat yang saat ini hanya 20%. 


29 Februari 2012

Belajar Tiada Henti


Ada banyak buku manajemen yang menggunakan kalimat “The ... Way” sebagai judul. Ada The IBM Way, The Toyota Way, The Apple Way. Buku-buku itu ingin menggiring pembacanya kepada jalan yang ditempuh hingga menjadi besar dan sukses.
Tapi buku ini, “The CEO Way: 3 Punggawa Telekomunikasi Indonesia” hanya sekadar menunjukkan bahwa ada banyak jalan yang bisa ditempuh oleh siapa saja dalam menuju puncak karier, sebagai chief executive officer (CEO). Penulis, Rizagana, yang juga menulis buku berjudul “The CEO Way: 8 Pendekar TI Indonesia” (Tristar, 2009), lebih banyak mengungkapkan perjalanan karier tiga CEO perusahaan telekomunikasi nasional hingga mencapai jabatan tertinggi.
Dari gaya bahasanya, buku ini bertutur tentang perjalanan karier tiga CEO di perusahaan telekomunikasi nasional. Ketiga CEO itu adalah Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk Hasnul Suhaimi, Dirut PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Rinaldi Firmansyah, dan Dirut PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) Sarwoto Atmosutarno.
Ketiga CEO itu, seperti CEO lain, rata-rata adalah orang-orang yang pintar dan cerdas. Mereka cerdas sejak semasa sekolah, bahkan siswa teladan. Tiga CEO ini awalnya orang-orang IPA atau eksak, yang meminati bidang teknik. Tapi kemudian setelah mengarungi dunia kerja, mereka terus belajar, dan terus sekolah. Mereka tidak lagi belajar tentang ilmu eksakta, tapi memperdalam ilmu manajemen, marketing, dan bahkan finansial. 
Terus belajar ini pula yang membuat mereka sukses.
Hasnul Suhaimi dan Rinaldi Firmansyah, misalnya, adalah insinyur Elektro dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Sedangkan Sarwoto Atmosutarno adalah doktorandus dari Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya. 
Hasnul kemudian mengambil gelar MBA dari University of Hawaii, Amerika Serikat (AS), dan Sarwoto mengambil gelar Master Business Engineer in Telecommunication dari Ecole Nationale Superieure Des Telecommunications de Bretagne, Francis. Sedangkan Rinaldi mengambil MBA dari Institut Pengembangan Managemen Indonesia (IPMI) Jakarta, dan gelar Chartered Financial Analist (CFA).

Setelah itu, mereka meninggalkan dunia obeng dan baut untuk kemudian tenggelam dalam dunia marketing, jualan, mencari pelanggan, profit, dan berusaha sekuat tenaga meningkatkan pendapatan perusahaan. Mereka mulai memasuki episode baru dalam hidup mereka dari yang eksak dan pasti ke dunia nisbi, yang semuanya bisa diatur atau bahkan ‘dinegosiasikan’. Mereka tidak lagi "percaya" dengan rumus matematika yang mereka pelajari dan yakini selama ini, bahwa 2 + 2 = 4, tapi bisa lebih dari empat.
Inilah yang mulai ‘dipermainkan’ ketiga CEO itu hingga meraih posisi puncak. Karier Hasnul dan Rinaldi begitu ‘berwarna’ dan loncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain, dibanding Sarwoto yang lempang di Telkom sebelum akhirnya ditugaskan memimpin Telkomsel, anak usaha Telkom.
Buku “The CEO Way: 3 Punggawa Telekomunikasi Indonesia” ini mencoba memberikan inspirasi kepada pembaca, terutama para pelajar atau mahasiswa dan karyawan baru yang sedang meniti karier. Tidak hanya menginspirasi, boleh juga mereka mempraktikkan langkah-langkah CEO itu, terutama dalam hal belajar yang tiada henti. (*)

06 Februari 2012

Andreas Diantoro Pimpin Microsoft Indonesia



Andreas Ruddy Diantoro ditunjuk sebagai Presiden Direktur Microsoft Indonesia. Pria kelahiran Yogyakarta, 12 September 1968 itu menggantikan Sutanto Hartono yang masa jabatannya berakhir pada akhir tahun lalu. Andreas akan mulai berkantor di Microsoft Indonesia pada 15 Februari 2012.

“Mohon dukungannya selalu,” kata Andreas Diantoro menjawab ucapan selamat via SMS, Senin (6/2).

Andreas memulai karier di Hewlett Packard (HP) Singapura sejak 1995, dan berlanjut ke HP Australia, sebelum akhirnya memimpin HP Indonesia pada 1999. Namun, pada 2005, ia hengkang ke Dell sebagai regional managing director South Asia/Developing Markets Groups.

Di vendor komputer yang bermarkas di AS itu, Andreas memimpin binis Dell di 23 negara berkembang di Asia Selatan. Ia bahkan membawahi lima region (country manager) di kawasan tersebut, yakni Kuala Lumpur-Malaysia, Singapura, Islamabad-Pakistan, Hanoi-Vietnam, dan Jakarta-Indonesia.

02 Februari 2012

Gavin Selkirk Jabat CEO Fujitsu Asia




Fujitsu Asia, penyedia solusi bisnis berbasis teknologi informasi (TI mengumumkan penunjukkan Gavin Selkirk sebagai Regional Chief Executive Officer (CEO) Fujitsu Asia, yang berlaku efektif sejak 1 Februari 2012. Selkirk menggantikan Lawrence Wee yang mengundurkan diri untuk menekuni peluang di bidang lain.

“Kami percaya pengalaman Selkirk akan memastikan Fujitsu dapat terus memanfaatkan pertumbuhan teknologi yang cepat di area, seperti solusi komputasi awan, konvergensi teknologi, dan komputasi mobilitas untuk meningkatkan dominasi Fujitsu di pasar-pasar berkembang yang pesat di kawasan ASEAN,” kata Corporate Senior Vice President dan President Global Business Group Fujitsu Limited, Rod Vawdrey dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (2/2).

Selkirk adalah lulusan Universitas New South Wales dengan gelar diploma bidang Business Management. Sebelum membangun karirnya di industri TI, Selkirk pernah bergabung di Royal Australian Navy di mana beliau bertanggung jawab untuk melakukan perencanaan dan memberikan rekomendasi keuangan terhadap berbagai isu untuk mendukung Armada Angkatan Laut Australia.

“Saya berharap mampu mengkapitalisasi semangat inovasi tiada henti yang ditunjukkan Fujitsu dan membantu pelanggan mengatasi tantangan , sekaligus membantu mereka menciptakan peluang usaha baru,” kata Selkirk, yang akan berkantor di Singapura untuk menjalani peran barunya.

31 Januari 2012

Shashi Savkur Pimpin HP Indonesia

JAKARTA – Hewlett Packard (HP) menunjuk Shashi Savkur sebagai Director of Global Sales and Managing Director HP Indonesia, efektif mulai 1 Februari 2012. Ia akan menggantikan Khai Peng Loh dan bertanggung jawab atas seluruh penjualan produk dan solusi enterprise di Indonesia.

“Saya sangat yakin akan kemampuan Shashi untuk memanfaatkan momentum ini dan optimistis ia akan terus mendorong HP sebagai pemimpin di pasar Indonesia,” ujar Narinder Kapoor, vice president Global Sales and Managing Director HP Other South East Asia sub-region dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (31/1).

Shashi berpengalaman lebih dari 25 tahun di bidang teknologi. Sebelumnya ia menjabat Sales Director di HP Southeast Asia. Sebelum bergabung dengan HP pada 2005, Shashi menjabat sebagai konsultan senior di Atos Origin di Singapura, juga di IBM Singapura dan India.

Di HP Indonesia, Shashi akan memimpin tim yang menekankan fokus utama layanan pada kepuasan pelanggan, termasuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan para klien maupun mitra kerja HP di Tanah Air. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, Shashi akan berkantor di Jakarta.

23 Januari 2012

Thorsten Heins Pimpin BlackBerry



Dua pendiri Research In Motion (RIM), vendor BlackBerry, mengundurkan diri dari jabatannya. Mike Lazaridis tak lagi menjabat sebagai co-CEO dan Jim Balsillie meletakkan jabatan sebagai co-Chairman RIM. Dewan Direksi RIM menetapkan Thorsten Heins sebagai Presiden dan Chief Executive Office (CEO) RIM, dan Barbara Stymiest ditetapkan sebagai ketua Direktur Independen atau Chairman RIM.

Heins tergolong pendatang baru di RIM. Ia bergabung di RIM sejak Desember 2007, menjabat sebagai Senior Vice President of Hardware Engineering. Pada Agustus 2011, Heins naik jabatan sebagai Chief Operating Officer (COO) RIM untuk Product and Sales. Sebelum bergabung dengan RIM, Heins sempat bekerja di Siemens.
Sedangkan Barbara Stymiest bergabung di jajaran dewan direksi pada Maret 2007. Pada awal Januari 2012, nama Stymiest yang masih menjabat sebagai eksekutif di Royal Bank of Canada itu mulai disebut-sebut untuk menggantikan Balsille.

Heins berharap bisa terus bekerja sama dengan Mike Lazaridis. "Mike menciptakan cara baru dalam berkomunikasi dan saya berharap untuk melanjutkan kerja sama kami," kata Heins dalam siaran pers, Senin (23/1).

Heins mengatakan, ia yakin bahwa RIM memiliki potensi luar biasa. Terlebih setelah Mike dan Jim mengambil langkah berani 18 bulan lalu ketika RIM membeli QNX untuk mendukung transformasi platform BlackBerry pada dekade berikutnya. "Kami merasa lebih yakin dari sebelumnya bahwa ini merupakan jalan yang benar," kata dia.

Heins mengatakan bahwa RIM memiliki fondasi yang kuat untuk membangun. RIM memiliki neraca yang kuat dengan sekitar US$1,5 miliar dalam bentuk tunai dan piutang pada akhir kuartal terakhir. Pendapatan RIM pada kuartal terakhir mencapai US$5,2 miliar atau naik 24% dari kuartal sebelumnya. Pelanggan BlackBerry dari tahun ke tahun meningkat sebesar 35% dan sekarang telah mencapai lebih dari 75 juta.

“BlackBerry 7 saat ini sudah dapat diterima dengan baik. Kami sangat bersemangat mengenai sistem operasi PlayBook 2.0 dan BB10. RIM telah menghasilkan reputasi yang terus-menerus terfokus pada pelanggannya dan memberikan layanan komunikasi mobile secara unik. Kami berniat untuk melanjutkan dan memperluas kepemimpinan BlackBerry,” kata Heins.

Sementara itu, Barbara Stymiest percaya bahwa Heins adalah eksekutif yang tepat untuk disandingkan dengan kesuksesan Mike dan Jim. Ia berpengalaman selama 27 tahun dalam bidang telekomunikasi, termasuk empat tahun di RIM dan berada di jajaran manajemen senior. “Sebagai Dewan, kami terkesan dengan keterampilan manajemennya, juga kepemimpinan dan prestasinya dalam perusahaan," kata dia.